Wednesday, September 29, 2010

Memaafkan Papa : Dari Sinilah Semua Berawal


Waktu Aldeenesta menulis, kalender menunjukkan tanggal 29 September 2010. Tepat 4 bulan yang lalu Papa dari Aldeenesta dipanggil olehNya. Lalu apa yang istimewa? Kelahiran, kematian adalah sesuatu hal yang biasa saja dalam sistem kehidupan ini. Makhluk datang dan pergi sesuai rencanaNya. Dan tidak terlanggar 1 detik pun.

Untuk mengetahuinya, marilah Aldeenesta ajak sebentar ke masa lalu. Waktu itu, Papa bersenggama dengan Mama. Ya, bersenggama. Walau waktu itu teknologi inseminasi buatan sudah ada dan kawin suntik sudah bisa dilaksanakan, agak mustahil untuk seorang Papa dan Mama dari Aldeenesta untuk melaksanakannya karena Papa dan Mama tidak mengalami masalah kesuburan sebagaimana orang-orang yang malang nasibnya, serta kawin suntik hanya berlaku untuk hewan.  

Satu tahun sesudahnya lahirlah seorang Aldeenesta lengkap dengan misi yang harus diemban di muka bumi ini. Waktu terus berlari. Aldeenesta beruntung bisa memiliki kedua orang tua Papa dan Mama yang saling melengkapi. Papa dan Mama ya, bukan Papa dan Papa.

Papa pernah membentak Aldeenesta dan memaki memakai kata hewan berkaki empat…
Papa pernah mempermalukan Aldeenesta di depan saudara-saudaranya…
Papa pernah memberitahukan aib mengerikannya yang sempat membuat Aldeenesta ingin mencabut  
                   keseluruhan memori otaknya…
Papa pernah melakukan kekerasan kepada Mama…

Aldeenesta sempat merasa benci. 

Namun menjelang deathbed-nya di Rumah Sakit, Aldeenesta merasa inilah sosok terbaik setelah Mama yang Alloh karuniakan kepada Aldeenesta. Sosok yang telah menyekolahkan dan ikut membesarkan Aldeenesta hingga sampai sekarang. Sosok yang pernah menyuapi Aldeenesta makan sewaktu Aldeenesta merengek-rengek minta makan (ada yang punya tisu?). Menjelang akhir hayatnya, ternyata Alloh hanya mengizinkan Aldeenesta seorang yang menemaninya.

Hati Aldeenesta hancur. 

Karena Papa adalah sosok yang sempat membuat Aldeenesta benci dan berterima kasih secara bersamaan. Namun di atas itu semua, Aldeenesta ingin memaafkan semua kesalahan yang Papa buat kepada Aldeenesta, karena Papa telah menempati sebagian ruang hati Aldeenesta. 

Sekarang Aldeenesta hanya ingin membuktikan kepada Papa di sana, bahwa Aldeenesta akan menjadi orang yang berdiri tegar setegar batu karang. Tak mampu badai dan halilintar mengoyak Aldeenesta menjalani kehidupan ini hingga akhir waktu.

No comments:

Post a Comment